A New Begin......
Dear diary...
Selasa, 19 Juli 2011
Aku sedang sangat-sangat bahagia karena akhirnya doa aku dan suamiku terjawab sudah. Akhirnya Tuhan bermurah hati memberikan kami keturunan juga. Sebelum perjalanan kami ke Hokeng untuk merayakan pesta perak hidup membiara yang ke 25 tahun mama suster, aku sudah terlambat haid. Aku merasa agak sangsi sehingga tidak segera memeriksakan diri. Saat kami liburan di Wegok (Wain Koja Obok), Desa Kajowair, Kecamatan Hewokloang, Kabupaten Sikka, desa asal suamiku yang adalah turunan dari salah satu Lepo Pitu Wegok yaitu Lepo Siga Hitong, selama seminggu, aku mulai merasa tidak enak badan, ngantuk terus, perut selalu kencang, malam susah tidur, akhirnya aku beli testpack dan akhirnya....tidak sampai semenit, aku sudah melihat hasilnya positif dengan adanya garis tambahan yang muncul pada stick testpack. “Bagaimana?”, tanya suamiku. Aku hanya mengangguk-angguk tanpa bersuara. Aku begitu gembira, begitu pula suamiku, kami begitu bahagia, suamiku sangat-sangat bahagia dan hal itu begitu mengharukanku, kami langsung sms ke keluarga-keluarga terdekat.” Ade, saya akan jadi ayah”, suamiku memberitahu adiknya di kampung.
Aku memberitahu kedua orangtuaku saat di Hokeng, “mama, bapa saya hamil satu bulan”, mereka terdiam beberapa saat, kemudian menyerukan rasa gembiranya dengan langsung protektif, memperhatikan aku. Selama di Hokeng, 2 hari, di rumah biara suster SSpS( Suster Misi Abdi Roh Kudus) yang merupakan salah satu tarekat atau kongregasi religius atau ordo keagamaan Katolik yang mempunyai nama resmi “Servae Spiritus Sanctus, yang berarti Misi Abdi Roh Kudus, [1] kami bergabung dalam penginapan bersama-sama keluarga-keluarga yang lain, aturannya itu sempat membuat anggota keluarga kelabakan, karena penginapannya dipisah antara yang perempuan dan laki-laki. Yang repot, alat-alat mandi dan baju-baju semua dalam satu koper jadi agak kerepotan mesti bolak-balik penginapan perempuan-penginapan laki-laki. Yang hadir di saat bahagia mama suster yaitu: Om Igen dan istrinya Tanta Tutik, serta anak-anak mereka Eva, Dwi; Om Her dan istrinyaTanta Mince, serta putra mereka Rafael; Kak Hendrik suamiku, aku ; Kak Iwan dan istrinya Kak Yayuk, serta anak-anak mereka Rilus, Rilly. Mama suster juga kelihatan sangat bahagia sekali. Banyak sekali imam yang hadir, aku hitung ada 30 imam. Acaranya begitu sukses dan meriah, dan menurut aku dari acara pesta yang pernah aku hadiri, yang satu ini begitu menyentuh hati. Aku begitu bangga dengan mama suster.
Kami juga melakukan perjalanan ke Waiwerang di pulau Adonara. Flores Timur daratan, pulau Adonara, Solor dan Lembata hanya bisa terhubung bila ada angkutan laut yang biasa disebut bis laut.. Berada di selat sempit berarus deras, tidak menghalangi perahu motor tradisional dua lantai yang kami tumpangi meliuk membelah gelombang dan terkadang terseret arus. Tiba di dermaga Tobilota - Adonara jam 17.00 Wita, dijemput Kak Yansen sepupuku. Ternyata jalan Tobilota –Waiwerang buruk keadaannya. Untung Kak Yansen yang bonceng jadi sudah terbiasa dengan jalannya. Akhirnya kami sampai juga, bertemu nenek Martha Igo, Kak Nona, Mama Rosa, Eti, Ani, Ansi, dan ponaanku Viona. Esoknya baru kedua orangtuaku, Om Her sekeluarga menyusul ke Waiwerang. Selama di rumah nenek, aku sempat terkapar karena pusing dan mual-mual. Untung, ada mama suster yang memberikan suntikan vitamin B12 (kobalamin) yaitu vitamin larut air yang berperan penting dalam berfungsi normalnya otak dan sistem syaraf serta pembentukan darah, sebanyak tiga kali. Kemudian aku menjadi kuat kembali. Ani, sepupuku juga diberi suntikan karena pusing dan lemah kondisinya akibat keguguran yang dialaminya. Kemudian datang keluarga Om Igen, Tanta Tutik, Kak Seri dan anaknya Erson. Yang sering masak di dapur adalah tanta Mince dan tanta Tutik. Kemudian rombongan yang terakhir tiba, yaitu Om Frans dan Mama Jola dari Sumba.
Kemudian dimulailah inti dari pertemuan keluarga di rumah nenek, yaitu perdamaian kembali hubungan yang telah rusak antara Om Teus dan adik-adiknya dan syukur atas pesta perak tabisan mama suster. Aku tidak bisa menceritakan detailnya, hanya saja bisa kusampaikan bahwa jalannya perdamaian itu begitu alot, ada tangis dan kepiluan, curahan hati dan keterbukaan, debat yang berbau tuduhan dan seterusnya hingga akhirnya mereka memutuskan untuk kembali berdamai dan sekali ini untuk selamanya dari hati, itu yang mereka putuskan bersama. Ayahku sempat merekam semuanya lewat handicam. A New Begin......
Di hari esoknya, nenek memberi kami babinya untuk dipotong dan makan bersama keluarga. 4 hari kemudian, aku, kedua orang tuaku serta Bapa Ditus kembali ke Ende, Kak Hendrik sudah pergi satu hari sebelumnya, karena ada rencana singgah kembali ke kampung Wegok. Dia ke Maumere bersama mama suster.
Perjalanan pulang aku , kedua orangtuaku dan Bapa Ditus kembali ke Ende penuh warna kelabu. Waktu turun dari kapal motor Arkona, barang-barang kami diperebutkan, tiba di terminal Weri – Larantuka, masih juga terjadi perebutan, akhirnya tas hitam untuk taruh pakaian rusak dan kami semua berurusan di pihak kepolisian meminta ganti rugi tas pada si sopir yang telah merusaknya. Setelah urusan tas selesai, kami melanjutkan perjalanan ke Maumere, tiba di Maumere, masih juga ada masalah sopir travel minta tambahan uang lagi, barang-barang dimasukan ke dalam mobil karena bagasi tidak ada. Kami duduk setengah mati, ditambah lagi, aku muntah sepanjang jalan. Tiba jam 23.30 malam di rumah orangtuaku di Ende. Perjalanan yang benar-benar menyengsarakan dan melelahkan serta menyakitkan hati.
Setelah itba di rumah orangtuaku di Ende, barulah aku merasa benar-benar lega sekali. Namun aku menjadi sering mual tidak karuan, maunya segera periksa kehamilan untuk bisa mendapatkan obat. Tiba di rumah Rega, aku langsung periksa kehamilan keesokan harinya di BKIA Wudu dengan Sr Maria Goreti. Diberi obat anti mual, susu dan sakatonik. Aku rutin meminumnya, sesuai ketentuan, hanya makannya belum sesuai ketentuan. Aku makan masih sedikit karena makanannya tidak sesuai selera.
Dear diary...
Minggu, 24 Juli 2011
Aku merasa baik-baik saja. Hari ini ada arisan di Boawae dengan teman-teman guruku, sama seperti arisan lainnya, kami mengumpulkan uang secara teratur pada tiap periode 1 bulan, setelah uang terkumpul, salah satu anggota kelompok akan keluar sebagai pemenang dengan jalan pengundian. Aku dan suamiku dapat arisan bulan depan tanggal 14. Kami sangat bersyukur untuk rejeki yang telah kami peroleh. Rencana pindah ke Boawae semakin tidak jelas. Aku hanya berharap segalanya berjalan sesuai rencana. Besok pernikahan Arik sepupuku di Bajawa Rencananya, Kak Hendrik akan menghadirinya, dia berangkat bersama Kak Reni sepupuku dan Kak Elis istrinya, besok siang. A New Begin...
Kalau dihitung hari ini, berarti aku sudah mengandung 2 bulan menjelang 3 bulan. Aku sangat senang dan berusaha menikmati segala perubahan yang terjadi dengan tubuhku. Waktu hamil awal sekali, aku merasa biasa-biasa saja, setelah 2-3 minggu badan mulai tidak enak, sering ngantuk di pagi hari, malam di saat tidur, pinggang dan perut terasa kencang dan sesak jadi jadi susah untuk tidur. Waktu itu aku belum merasa mual, paling-paling kalau sudah malam tidak boleh telat makan. Kakalu tidak, sudah pasti seperti orang yang sakit lambung, mulai terasa mual-mual. Kemudian waktu usia kandungan 1 bulan mulai pusing-pusing, badan lemah, mual-mual. Semakin menjelang 2 bulan semakin parah, mualnya semakin menjadi, pagi maupun malam. Setelah cek ke suster di BKIA Wudu, diberi obat anti mual, mualnya berkurang, tinggal malam menjelang tidur. Kemudian setelah lewat 2 bulan ini, mualnya di malam hari sudah hilang, hanya kadang-kadang saja. Tapi pinggang dan betis sakit-sakit dan linu-linu semua. Apalagi kalau terlalu duduk, maunya baring baru agak enak. Badan sering meriang, demam, kepala pusing. Tapi aku berusaha menikmati segalanya. Benar juga orang bilang, ganti bulan, ganti juga pembawaannya. Hanya satu yang tetap, kalau habis makan makanan yang enak, puas sekali sampai senang sekali. Kalau makan bakso pasti pusing, dan kalau makan pisang bakar maunya makan terus-terus-terus....aku menganggapnya sebagai selera buah hatiku karena biasanya aku pasti melahap bakso dan melewatkan pisang bakar.
Aku berencana mau mencari artikel-artikel mengenai kehamilan, apapun itu, tapi nanti kalau kandungan sudah cukup kuat sehingga bisa pakai bis pulang pergi Ende-Rega. Rencanaku, saat USG(Ultrasonografi) untuk memperkirakan usia kehamilan dan memperkirakan hari persalinan nanti, di bulan kelima. Aku berdoa, menanti, menjaga dan menikmati setiap detik kehamilanku. A New Begin...
Dear Diary,
Selasa, 16 Agustus 2011
Selamat sore...kali ni aku menemuimu dari sebuah rumah mess guru di sekitar sekolah, yang sudah kutempati selama kurang lebih tiga minggu ini. Akhirnya aku pindah juga ke Boawae sesuai rencana semula, karena kondisi dan suasana rumah Rega yang sudah tidak nyaman dan membuatku sangat-sangat tertekan. Aku bahkan sempat, boleh kukatakan melarikan diri sementara ke Ende selama kurang lebih seminggu bertepatan dengan antar belis, upacara adat sebelum melakukan proses pernikahan ( penyerahan seperangkat mas kawin oleh keluarga laki-laki kepada keluarga perempuan berdasarkan kesepakatan sebelumnya), sepupuku Cyko dan Nona, jadi aku ke Ende dua hari sebelum hari antar belis, tanggal 30 Juli 2011, aku dan Kak Hendrik hadir juga, kemudian disambung dengan liburan pembukaan puasa tiga hari, setelahnya hampir selama seminggu aku di Ende, hari Selasa tanggal 2 Agustus aku sempat cek up ke suster Consita, dan mama suster juga dan diberi obat maag, tambah darah dan anti mual. Jadi aku putuskan untuk membatalkan pemeriksaan di Wudu yang dijadwalkan tanggal 8 Agustus. Waktu itu di rumah ada Bapa Ditus, jadi Bapa Ditus sempat sembur-sembur dan beri obat juga, pakai akar dan ada minyak urut juga. Aku merasa sangat diperhatikan. Hari Rabu aku kembali ke Boawae dan hari besok malamnya tanggal 4 Agustus, aku, Kak Hendrik serta ade Verny dari Maumere sudak pindah ke Boawae, di mess guru ini. Tanggal 14 Agustus sesuai dengan yang direncanakan, ada arisan di rumah kami di Rega. Acaranya seperti biasa, yang hadir banyak, hanya persiapan di dapur ternyata kacau, dagingnya kurang, akhirnya kami yang di dapur dapat sisa-sisa. Tetapi semua sudah berlalu, itu pembelajaran buat aku. Ternyata masak tidak susah-susah amat hanya harus dibiasakan.
Dear Diary,
Sabtu 3 September 2011
Keadaanku baik-baik saja. Aku sudah lama tidak menulis dan kali ini aku senang sekali bisa bercerita banyak. Kehamilanku memasuki bulan ke-3. 15 hari lagi genap 4 bulan. Aku begitu bahagia dan juga menikmati setiap moment kahamilanku yang disertai sakit pinggang, sakit kepala, mual, muntah, lemas, semangat, berganti-ganti. Liburan Lebaran tanggal 28-31 Agustus, aku di Ende. Rencananya mau menghadiri misa nikah dan pesta nikahnya sepupuku Cyko dan Nona tanggal 29 Agustus. Di rumah, aku dan Oni banyak bertukar cerita rumah tangga masing-masing, susah senangnya yang begitu penuh warna. Tanggal 29 siang, Oni mulai sakit perut, mula-mula hanya perut tegang dan tertusuk di bagian vagina. Namun ternyata dia sampai tidak bisa bangun saat perutnya dalam posisi seperti itu. Kemudian berangsur-angsur pulih kembali, bahkan sempat makan tambah, ke WC lalu telpon Gusty di Mbay untuk segera datang. Dia sempat layani Gusty makan, setelah itu Gusty istirahat. Menjelang sore, sekitar jam 15.00 sampai dengan 15.30, dia mulai rasa sakit yang terus-menerus, saat itu Kak Hendrik dan Opa Ivo datang dari Rega dan tiba di rumah. Dus dan Enjel juga pas tiba di rumah. Jadi hanya Bapa yang menghadiri misa nikahnya Cyko di Ende dengan Opa Ivo dan Kak Hendrik juga. Aku, mama, Gusty dan ponaan yang namanya Ivan ke rumah sakit. Oni sangat kuat menghadapi kelahiran bayi pertamanya, dia tidak berteriak-teriak seperti ibu-ibu yang lain karena dia ingat pesan mama Rosa supaya jangan teriak. Dia begitu luar biasa, akhirnya bayinya lahir jam 21.18, bayi laki-laki yang putih, ganteng, sehat, mirip Gusty, mereka menamainya Yohanes Bernadus Biki. Oni dan Gusty kelihatan sangat-sangat bahagia sekali dengan kelahiran Joan, begitulah panggilannya. Besok paginya baru aku sempat menjenguknya karena malam harinya aku pulang ke rumah. Esoknya aku jaga Joan seharian, biasanya aku takut gendong bayi, tapi kalau Joan sama sekali tidak. Aku merasa dia anakku juga. Aku merasa ada getaran di hatiku saat menggendongnya, bahwa saatku akan tiba juga untuk menggendong annakku tahun depan di sekitar bulan Februari sesuai perhitungan. Ternyata Kak Hendrikpun merasakan hal yang sama. Dia begitu gugup menghadapi kelahiran Joan. Semua bergembira melihat bayi Joan. Dia begitu luar bisa sekali. Esoknya aku kembali ke Boawae, herannya aku tidak muntah. Tiba sore, malam baru bertemu Kak Hendrik karena dia masih sibuk di Rega, persiapan nikahnya Cyko. Esoknya tanggal 1, mulai dari pagi aku ke Rega untuk bantu-bantu masak, tepatnya potong daging. Menjelang sore aku dan Kak Hendrik segera ke Boawae, mandi, siap diri jadi penerima tamu di pestanya Cyko dan Nona. Aku menjalani peranku apa adanya, setelah itu kembali istirahat di Boawae. Besoknya aku tidur seharian untuk pulihkan tenagaku.
Dear Diary,
Jumat, 9 September 2011
Aku sedang menulis dalam kamarku di mess guru yang kutempati bersama suami dan 2 adik perempuan. Sekarang usia kandunganku hampir 4 bulan. Tanggal 14 nanti baru genap 4 bulan. Bayiku belum bergerak-gerak. Tanggal 6 lalu aku periksa kehamilan ke Susteran di Wudu. Berat badan masih 44 kg, Hb 10, tensi 85/80, berarti beratku, Hb baik tapi tensi masih rendah. Aku seringkali pusing, apalagi siang hari menjelang sore. Malamnya aku sering tidak bisa tidur, mungkin karena tensi yang rendah itu. Pagi dini hari baru bisa pulas tertidur. Mual dan muntah sudah tidak sama sekali, hanya pusing dan tidak bisa tidur itu masih mengganggu. Obat yang ddikasih suster, obat anti mual dan multivitamin untuk tambah darah. Aku minum obat yang dikasih secara teratur 2 x 1; pagi dan malam. Napsu makanku sudah baik, aku harapnantinya berat badanku bisa naik. Selama ini aku merasa sudah agak susah kalau jalan, perut rasanya sudah berat. Berdiri lama sudah sudah tidak kuat lagi. Lebih banyak duduk dan yang paling nyaman kalau berbaring. Sepertinya kebutuhan rumah tanggaku bertambah banyak. Semuanya kujalani apa adanya. Tanggungan di lingkungan rumah Rega masih ada yang harus ditanggung di bulan Oktober. Aku harap segalanya akan lancar. Tuhan tolong kami. Tanggal 3 atau 4 lalu, ada kerbau yang masuk rumah atau datang ke rumah Rega tengah malam dan kemudian menghilang.
Dear diary,
Minggu, 18 September 2011
Hari ini aku kelelahan. Lemas sepanjang hari, cuma baring-baring saja. Badan terasa tidak enak, rasanya seperti sakit berat. Menjelang tengah malam, mulai pulih, malah sehat sekali, apalagi aku sudah lap badan pakai air panas. Sekarang sudah segar sekali. Dan malam inipun pastinya aku tidak bisa tidur lagi. Sudah seminggu ini aku susah tidur di malam hari, meski sudah menguap berkali-kali, namun mata tetap nyalang terang. Kak Hendrik ada ikut kegiatan kursus pramuka tingkat pembina di SPP Boawae. Ini sudah hari ketiga. Biasanya malam hari pulang ke rumah, tapi malam ini ada kegiatan api unggun, dan merasa wajib istirahat di kamp di SPP. Siang tadi aku marah-marah, sore juga marah-marah sama Kak Hendrik.
Komentar
Posting Komentar