PORTAL Laura bergegas mengikuti langkah cepat Sam. Lelaki berperawakan tinggi itu seakan tak memahaminya. Sudah lama Laura menaruh hati padanya. Kesempatan hiking bersamanya, bagi Laura adalah bagaikan mendapat durian runtuh. "Bisa lebih pelan jalannya?" tanya Laura sambil mengatur pernapasan. "Ini juga sudah pelan, Dek!" Sam adalah sahabat sang kakak. Keduanya merencanakan hendak mendaki bukit di hari ini. Laura yang mencuri dengar percakapan keduanya, segera menyiapkan diri untuk mengikuti kegiatan tersebut. Maka, ketika sang kakak membatalkan kepergiannya karena sakit perut, ia begitu bersemangat menggantikan posisi sang kakak. "Kenapa kamu ke sini, Laura?" tanya Sam dengan pandangan curiga saat membuka pintu kamarnya dan mendapati Laura berdiri di sana. "Aku menggantikan kakak untuk hiking bersamamu hari ini." Sam menyipitkan matanya, terlihat berpikir sejenak, kemudian menarik napas panjang. "Apa kau pernah mendaki bukit seb...
RINDU Aku merasa begitu galau. Duduk di kursi kayu buatan ayah yang kutarik ke pinggir jendela kamar. Hembusan nafasku ke kaca jendela yang berembun, membuatnya bertambah gelap. Meski aku berusaha menghalau kegelisahan dengan memandang rinai hujan senja ini, semuanya sia-sia. Bayangan lelaki itu terus menghantuiku. "Aku menyukaimu," kataku dengan segenap keberanian. Aku telah menyimpan rasaku selama dua tahun belakangan ini. Di hari kelulusannya, kuputuskan untuk menyatakan perasaanku. Ia memandangku dalam diam. Sedetik dua detik. Aku menanti responnya dengan sabar. Sepuluh detik berlalu. Aku menelan ludah. Ia masih diam. "Well?" tanyaku lagi. Kali ini aku pasrah. Tatapannya menyiratkan kepedihan. Oh! Jangan bilang ia akan menolakku. "Aku sudah punya pacar," jawabnya perlahan. "Siapa? Kak Mel, sa...sahabatmu itu?" tanyaku dengan lidah kelu. Ia mengangguk. "Sejak kapan?" "Seminggu yang lalu," jawabnya perlahan. Hatik...