Langsung ke konten utama

Rindu

RINDU Aku merasa begitu galau. Duduk di kursi kayu buatan ayah yang kutarik ke pinggir jendela kamar. Hembusan nafasku ke kaca jendela yang berembun, membuatnya bertambah gelap. Meski aku berusaha menghalau kegelisahan dengan memandang rinai hujan senja ini, semuanya sia-sia. Bayangan lelaki itu terus menghantuiku. "Aku menyukaimu," kataku dengan segenap keberanian. Aku telah menyimpan rasaku selama dua tahun belakangan ini. Di hari kelulusannya, kuputuskan untuk menyatakan perasaanku. Ia memandangku dalam diam. Sedetik dua detik. Aku menanti responnya dengan sabar. Sepuluh detik berlalu. Aku menelan ludah. Ia masih diam. "Well?" tanyaku lagi. Kali ini aku pasrah. Tatapannya menyiratkan kepedihan. Oh! Jangan bilang ia akan menolakku. "Aku sudah punya pacar," jawabnya perlahan. "Siapa? Kak Mel, sa...sahabatmu itu?" tanyaku dengan lidah kelu. Ia mengangguk. "Sejak kapan?" "Seminggu yang lalu," jawabnya perlahan. Hatiku terasa sakit mendengar pengakuan yang keluar dari mulut lelaki yang dua tahun ini menghiasi mimpi-mimpiku. "Oh, begitu, ya," aku memaksakan sebuah senyum ikhlas yang kuyakin tidak ikhlas terlihat baginya. Bening air turun dari netraku. "Semoga bahagia dengan Kak Mel," kuacungkan jempol untuknya. Ia tersenyum padaku. Sama tidak ikhlasnya dengan senyumku. Segera aku berbalik. Nahas bagiku, ketika melangkah pergi, kakiku terantuk sepotong kayu melintang dan terjatuh. Aku segera bangkit, sebelum ia berusaha menolongku. "Kamu tidak apa-apa, Dek?" Aku mengangguk tanpa menoleh. Tak sanggup rasanya melihat wajah itu. Lelaki yang kuimpikan telah memilih gadis lain. Peristiwa itu masih segar di ingatanku meski telah seminggu berlalu. Rindu adalah satu-satunya sahabat, tempat curahan hati. Perlahan ia mengintipku dari balik pintu, mengajakku bermain. Kucoba untuk mengabaikannya, namun ia tak menyerah. Rindu berputar di kaki-kaki kursi kayu yang kududuki, kemudian melompat ke pangkuanku. Aku segera mendekapnya erat. "Rindu, apa kau memahami yang kini kurasa?" tanyaku setengah melamun. "Meong…" sambut Rindu kemudian mendengkur pelan.

Komentar