Langsung ke konten utama

A Girl Called Martha

A Girl Called Martha Kisah ini berawal dari kesadaranku yang timbul dari perenungannya di suatu hari yang kelabu. Bisa kukatakan demikian karena hari itu adalah hari dimana aku kehilangan nenekku, wanita yang luar biasa, menjadi inspirasi bagi orang di sekitarnya terutama bagi anak-anak dan cucunya. Hari ini dia tiada, namun kisahnya menjadi legenda...... Rega, sembilan puluh empat tahun yang lalu... Di tengah malam berbulan terang, dari balik sebuah rumah adat di kampung Natameze, terdengar tangis bayi perempuan yang baru saja lahir. Kedua orang tuanya, Badhi Owa dan istrinya menamainya Martha Igo Wula, Wula artinya bulan, dengan harapan kelak sang bayi akan menjadi penerang bagi gelapnya kehidupan, memberi harapan baru. Martha tumbuh menjadi anak gadis yang luar biasa, yang paling menonjol adalah rajin membantu ibunya di dapur. Dibanding kakak-kakak perempuannya justru si bungsulah yang paling rajin. Waktu berlalu dan tibalah saatnya bagi si bungsu untuk pergi ke sekolah. Saat itu Indonesia masih di bawah penjajahan Belanda, anak-anak diwajibkan untuk bersekolah, jika tidak orang tualah yang akan menanggung akibatnya, yaitu dicari oleh mandor untuk dihukum. “ Martha, bersiaplah ke sekolah anakku”, teriak sang ayah dari dalam rumah. Dengan sigap si bungsu menjawab “Baik bapa, saya sudah siap ni”. Dengan bangga sang ayah membelai penuh sayang kepala anak kesayangannya itu. “Belajar yang benar ew anak”, lanjut Badhi Owa. Ia begitu yakin putri kecilnya yang rajin tidak akan mengecewakannya. Seminggu berlalu, kemudian di tengah keheningan kampung, datanglah seorang mandor berkuda, berhenti tepat di depan rumah sang Mosalaki[1] Badhi Owa. Dengan tergopoh-gopoh keluarlah sang pemilik rumah. “Ada apa, bapa?”, sambil terbatuk-batuk,”siang-siang begini mampir di tempat kami?”. “Hmmmm, Badhi Owa, sekarang ikut ke kantor, putrimu sudah seminggu membolos dari sekolah”. Meski sangat terkejut, Badhi Owa mengikuti lelaki tersebut ke kantor desa. Putrinya pasti punya alasan yang kuat untuk membolos, membatin lelaki tua tersebut. Sepasang mata kecil milik Martha mengintip dari dalam dinding rumah, diam-diam mengawasi sang ayah, disertai desah kekuatiran. “Saya tidak suka sekolah bapa, kami semua ketakutan, salah sedikit dipukul”, jawab polos puti kecilnya ketika ditanya. “Terus...?”, lanjut sang ayah dengan kening berkerut. “ Saya di atas pohon, sampai teman-teman pulang, saya ikut pulang juga”, dengan lancar putrinya menjelaskan keberadaannya selama seminggu. Badhi Owa hanya bisa mengelus dada, sambil berpikir, seminggu dia membolos saya harus hormat bendera selama 2 jam, apalagi kalau lebih lama bolosnya....dia tidak bisa membayangkan hukuman yang akan ditanggungnya lagi. “Aku harus menyelesaikannya”,membatin sang ayah. Keesokan harinya,

Komentar